From: Haqi 2002 <mahrusbaihaqi24@gmail.com>
Date: Mon, 16 Dec 2019, 02:23
Subject: Perubahan sosial pasca bencana banjir pada kampung Cieunteung(Mahrus BR)
To: <sosiologismaitnf.perubahan@blogger.com>
Dinamika perubahan masyarakat aceh setelah tsunami 2004
Dinamika perubahan kehidupan masyarakat aceh setelah tsunami 2004
Akibat:
- Masyarakat yang tadinya tertutup menjadi terbuka terhadap dunia luar
- Ada beberapa tradisi adat yang hilang karena sarana tradisi yang hilang paa saat tsunami
- Setelah tsunami bangunan menjadi lebih modern
Gunung Merapi, sebagai gunung berapi aktif di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta telah menghadirkan keunikan tersendiri bagi masyarakat luar. Masyarakatnya seakan mampu bersahabat dengan Sang Gunung, yang dianggap memakmurkan mereka, melalui kekayaan alam yang diberikan. Berbagai kearifan lokal berkembang di lingkungan Merapi, yang juga dipengaruhi oleh kehadiran juru kunci Sang Gunung, „Mbah Marijan‟.
Harmonisasi ini mulai sedikit terusik oleh aktivitas erupsi Merapi 2010 lalu. Perubahan inilah yang akan dibahas dalam penelitian ini, melalui pengumpulan data sekunder dan telaah pustaka dari beberapa jurnal. Penelitian ini dilakukan untuk membahas dan menggambarkan perilaku masyarakat yang hidup berdampingan dengan Merapi sebelum dan setelah erupsi, kemudian dikerucutkan pada perbandingan aktivitas dan anggapan sosial yang berkembang sebelum dan setelah erupsi terlebih ketika Mbah Maridjan wafat.
Penelitian memperlihatkan bahwa segi sosial, tradisi, kondisi fisik dan ekonomi serta pariwisata. Dari segi sosial, masyarakat yang awalnya cenderung tertutup terhadap pemberitaan luar dengan hidup berkelompok di sekitar lereng, menunjukkan perubahan setelah erupsi, dimana masyarakat lebih peduli terhadap pemberitaan dunia luar. Tradisi yang berlangsung mulai dari sebelum erupsi, tetap dilakukan oleh masyarakat merapi sampai saat ini. namun ada beberapa tradisi adat yang dihilangkan karena hilangnya sarana akibat erupsi. Pembangunan sarana dan prasarana yang seadanya, saat pra erupsi, mulai sedikit modern pasca erupsi. Hal ini karena banyak prasarana yang dibangun pemerintah. Dari segi ekonomi, dimana masyarakat yang awalanya hanya bercocok tanam, waktu pra erupsi, berubah alih menjadi lebih memajukan pariwisata, tanpa mengesampingkan tugas bercocok tanam nya
1. Perubahan karena bencana alam
2. Peeubahan yang terjadi adalah adanya modernisasi yang terjadi pasca erupsi merapi, dikarenakan oleh sarana yang dibangun pemerintah untuk menambah ekonomi masyarakat. Seperti awalnya yang hanya berfokus pada cocok tanam namun sekarang mulai membangun sarana parawisata untuk turis domestik maupun asing
Muhammad Ferdiansyah
xii ips 1
Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera utara, kembali meletus pada Senin (19/2/2018), sekitar pukul 08.53 WIB. Tinggi letusan diperkirakan mencapai 5.000 meter dari puncak Gunung Sinabung. Menyusul letusan tersebut, awan panas meluncur mencapai jarak 4,9 km ke arah sektor selatan-tenggara dan 3,5 km ke arah timur-tenggara. Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dampak dari awan panas ini terpantau masih berada di kawasan yang disterilkan. Setelah itu debu vulkanik terbang ke arah barat sesuai tiupan angin. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Karo mencatat ada lima kecamatan yang terpapar debu vulkanik Gunung Sinabung antara lain Kecamatan Tiga Nderket, Payung, Munthe, Lau Balang, dan Namanteran. Kecamatan paling terdampak debu vulkanik ini terjadu di Kecamatan Tiga Nderket dan Kecamatan Payung. "Di dua kecamatan itu, hampir semua desa diterpa debu vulkanik," kata Kabid Kedaruratan BPBD Karo, Natanail Peranginangin seperti dikabarkan Antara. Dampak letusan Gunung Sinabung juga terjadi di Desa Juta Rakyat, Kecamatan Namanteran. Di daerah itu terjadi hujan kerikil yang menimpa rumah warga ketika erupsi berlangsung. Hujan kerikil tersebut menyebabkan sebagian besar warga keluar desa untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. "Namun kini sudah berhenti dan warga sudah kembali ke desanya," ujar Natanail. Namun Asisten 1 Pemkab Karo Siang Karokaro mengatakan letusan Gunung Sinabung tidak berdampak terhadap kepariwisataan di daerah itu meski sempat timbul akibat awan gelap akibat banyaknya tebaran debu vulkanik pascaerupsi. "Hingga menjelang pukul 11.00 WIB, sempat agak gelap," kata Siang.
Akibat: keseharian masyarakat desa tersendat karena ada nya debu yang tebal. Mata pencaharian pertanian pun menjadi mati karena tertutup debu
Perubahan terjadi karena ada nya bencana alam letusan gunung ap
ihttps://tirto.id/dampak-letusan-gunung-sinabung-pada-19-februari-2018-cE3J
Hafuza Anandio